June 1, 2014

Before Midnight

Hello Dear, :)

Menyempatkan diri menulis blog sebelum tidur. Setelah dua hari ini selalu tidur di sepertiga malam dan memaksa badan bangun pagi-pagi, hari ini misi saya ialah tidur sebelum jam 11.
Lagi-lagi waktu weekend saya yang harusnya fokus ngerjain skripsi kembali disita hal-hal disekeliling saya. Persiapan untuk soft-opening kafe yang saya usung bersama Hanip, Yogi, Mita memang lagi gencar-gencarnya. Otomatis hampir setiap hari saya ketemu sama mereka. Hari ini juga Halimah nginap lagi di kosan setelah malam sebelumnya juga menumpang inap sehabis ia pulang dari Jakarta.

Padahal niatnya malam ini saya fokus ngerjain skripsi, seharian tadi saya nggak jadi ngerjain skripsi karena kamar saya rame dan tetek bengek lainnya. Padahal pembahasan skripsi saya baru 50% selesai dan itu pun masih kasar, mana besok juga saya bimbingan, tapi mau gimana lagi, saya ngerasa waktu saya nggak banyak lagi sama mereka jadi saya mau sesering mungkin bareng-bareng mereka ini. Ketawa-ketiwi bareng nonton streamingan show SUCI 4 sambil memamah oleh-oleh Halimah. Kamar saya rusuh sementara kami ngerumpi luar biasa seru, bahkan kata Dinda, dengan kasur tarik angkut dari kamar Tika dan segala barang yang ditumpuk dan bertebaran, kamar saya udah kayak mess penampungan TKW.

Saya memang paling susah bilang NO ke orang-orang, apalagi kalo itu ajakan main atau sekedar berkumpul dengan teman-teman. Saya selalu ngerasa sok bisa mengerjakan semuanya dalam suatu waktu, saya ngerasa keteteran tapi di sisi lain saya bahagia. Padahal saya bener-bener harus lulus sebelum agustus ini kalo enggak saya terpaksa ambil cuti. Saya juga mesti ke jakarta ngurus residence permitt di Finlandia. Nilai KKN saya juga gimana nasipnya? Kalo udah gitu saya cuma bisa banyak-banyak doa, semoga Allah melancarkan semuanya dan ngasih saya kekuatan super.

Ah bahkan saking banyaknya saya jadi nggak sempat mencemaskan kafe. Hari ini akhirnya saya, Hanip, Yogi dan Mita ketemu Mas Fathur, tukang kayu yang direkomendasikan Mbak Sari,  ah, rasanya kurang tepat kalau saya bilang Mas Fathur ini tukang kayu, saya lebih senang menyebutnya seorang ahli pembuat interior furniture :)

Satu hal yang paling saya suka sama Mas Fathur ini ialah orangnya yang humble luar biasa. Jam terbangnya udah kemana-mana dari project kafe, rumah pribadi sampe studio musik tapi ngakunya masih belajar dan usaha kecil-kecilan. Orangnya juga ramah dan sama sekali nggak terkesan sok-sokan. Berkat Mas Fathur ini lah akhirnya segala kepeningan kami yang buta desain sedikit demi sedikit tercerahkan :)

Kabar lainnya ialah hari ini pasukan Langit Eropa @RampoeUGM angkatan 3 dan 4 yang menjadi delegasi Indonesia untuk Misi Diplomasi Budaya di Perancis dan Belgia akhirnya bertolak meninggalkan Indonesia. Dari pagi saya dan Halimah menyaksikan kerusuhan Dara yang menggelar koper di depan kamarnya. Melihat itu kami berdua jadi terkenang lagi akan segala ke-hectic-an hari H keberangkatan. Jangankan sempat pemeriksaan medis ala mereka yg sekarang, hari keberangkatan kami masih hectic reschedule  tiket Bang Oli akibat urusan visa yang masih misteri Ilahi.

Tapi di festival Eropa tahun ini, beberapa hostfamily festival Oostrozebeke tahun kemarin bakal dateng jauh-jauh ke Saint Ghislain untuk mendukung @RampoeUGM. Yah, biarpun Dirk agak sedih karena saya dan Tika nggak jadi ikutan festival tahun ini, seenggaknya saya ngerasa cukup berbangga sih karena bisa ngebuktiin ke Dirk bahwa seenggaknya perjuangan dua mempertahankan kami tahun kemarin enggak sia-sia. Saya ingat dulu Dirk pernah bilang bahwa keikutsertaan kami, @RampoeUGM di festival Wereldfolkloreade tahun kemarin bakal membuka peluang lebih besar di masa depan dan pengakuan di mata Internasional. Saya tahu keikutsertaan kami di festival Saint Ghislain ini pasti bikin Dirk bahagia.

Di tempat makan sehabis saya, Mita, Yogi, Hanip, Apong dan Halimah pulang dari bandara, saya tetiba ingat asal mula saya mengompori Hanip dan lainnya untuk memberangkatkan tim ke Eropa lagi. Ialah akibat sakit hati saya perihal komentar miring seorang anggota kelompok tari lain yang menjelek-jelekkan tim tari saya padahal saya nggak ada urusan apa-apa sama tim tari dia. Karena dia bilang tim tari saya baru sekali ke Eropa aja bangganya udah setengah mati dan tim tari dia sebenernya udah kemana-mana juga tapi enggak terkenal. Iya saya masih ingat jelas kata-katanya sebab yang dia jelek-jelekan itu rumah saya.
Keluarga saya.

Tapi saya bersyukur hari ini Allah menghapus sakit hati itu dengan nikmat pencapaian yang membahagiakan. 

Yang datangnya jauh lebih berarti dari kata-kata hitam yang menghujam tulang dari belakang.

dari colormekatie.blogspot.com

Selamat menyambut Senin Wahai Syedara
Semoga Allah menolong saya dalam bimbingan besok dengan Bu Zulfa

No comments:

Post a Comment