January 1, 2015

2015


Jauh berbeda dari tahun-tahun terdahulu, kali ini aku merayakan tahun baru dengan cara yang sama sekali baru. Jauh dari riuh suara terompet yang ditiup massal di pusat kota, tidak pula menyaksikannya dalam hening dari tepi beranda.

10 menit sebelum pukul 12, tujuh belas orang yang ada di rumah Nina sibuk. Mantel-mantel dan celana musim dingin bertebaran di dekat pintu, Maria dan Nina sibuk mempersiapkan putra putri termuda mereka agar aman menonton kembang api di luar. Laarisa, Peppi, Minttu dan aku sibuk memilah-milah gelang cahaya, Heikki, Marku dan Martti yang kedapatan kloter terakhir berendam di hotpot (bak kayu besar berisi air panas untuk berendam di teras) setelah kelompok anak-anak, remaja dan ibu-ibu berduyun-duyun berganti baju. Sementara Katri, yang anak-anaknya sudah cukup besar mengurusi diri sendiri, sibuk menuang minuman tahun baru (wine untuk orang dewasa, dan soda apel untuk anak-anak) ke gelas tinggi yang elegan. kekeke...

Lalu di luar kami menyalakan kembang api batangan sambil bermain seluncur salju. Veeti, Kasper, Arttu dan Patrik membuat menara dari salju dan menancamkan batangan kembang api mereka di puncaknya, Sebagian lagi, Pyry, Peetu dan Minttu membuat lubang salju untuk memendam bunga api yang menyala hingga membuatnya kelihatan seperti lentera.

Kelompok bapak-bapak bersiap-siap di ujung halaman, menyiapkan tontonan bunga api yang kemudian merekah di atas kepala kami, dan begitu kelopak terakhir bunga api pecah, masing-masing orang mengangkat gelasnya, mengucapkan Hyvää Uttaa Vuotta bersama-sama.

Semua orang gegap gempita. Bahagia. Merayakan tahun baru bersama para sahabat lama. Aku memperhatikan kebahagiaan mereka dari tepian. Halaman gelap dan pepohonan di sekeliling kami menambahi pekat, tapi jalan-jalan bercahaya diselubungi salju yang mulai cair.

Aku menatap mereka. Dan menatap bintang-bintang yang kini sendirian. Bersyukur atas tahun yang telah lewat. Untuk pengalaman-pengalaman baru yang tidak terbayangkan. Untuk orang-orang baru yang betapapun terasa asing namun begitu baik hati. Untuk salju yang berlimpah-limpah. Untuk musim gugur yang subhanallah indah. Untuk dingin tidak terkata yang kejam menusuk-nusuk tulang. Untuk hari-hari kesepian. Untuk hari-hari membahagiakan. 


Dan kesabaran menunggu kesempatan untuk jatuh cinta.

No comments:

Post a Comment