February 18, 2017

Yang Aneh-Aneh Menarik di India

"Plak!" sebuah tepukan mendarat di bahu saya. Di sebelah saya, berdiri Umma (ibu mertua) menggumamkan sesuatu dalam bahasa Malayalam. menyuruh saya mengenakan kerudung karena adhaan tengah berkumandang. Saya bergeming dan pura-pura tidak mengerti, duduk diam sambil mendengarkan adhaan yang masih belum selesai. Umma mulai mengomel dan semakin marah-marah, dengan enggan akhirnya saya memilih masuk ke kamar saja, dan tetap menolak pakai kerudung =P

Actually, it is completely an innovation that women should cover their hair during adhaan even at home, when there's no non-mahram around her. And because I'm basically a rebel, saya menolak patuh pada hal-hal nggak berdasar seperti itu. Waktu akhirnya Ka Salam masuk kamar untuk sholat maghrib dan bertanya kenapa muka saya berkerut-kerut, saya ngomel-ngomel dan minta dia mencarikan ayat atau hadis berisi perintah memakai kerudung saat adhaan. Setelah dicari-cari ternyata memang nggak ada dalil seperti itu, seketika itu pun saya merasa menang *evilsmirk*.

"It's even okay for you to not cover your hair when you recite Qur'an," kata Ka Salam menatap hp dengan pengetahuan baru, yang mana sebenarnya saya juga baru tahu. :D

Rupa-rupanya, dilema mengenai hukum memakai kerudung saat adhaan merupakan hal umum yang telah banyak di bahas dalam forum-forum keagamaan. Setidaknya, itu lah yang banyak terjadi di India.
In India, they frown when you don't cover your hair when you hear adhan (even if alone or with sisters) while they move around with their hair uncovered all day.They don't listen and answer the adhan but continue with their gossips but yes they think they are always right coz they hv pulled the dupatta over their head.

Saya tersenyum membaca salah satu komentar, it speaks what's in my mind this whole time, clear and loud. Nggak masalah, kalau perempuan kesana-kemari tanpa hijab, bahkan meski itu di depan non-mahram sekalipun, but once you hear adhaan, you really have to sprint inside house to grab your hijab, and instead of listen and answer the adhaan they freely continue their gossip and useless talks.

Gimana saya nggak gregetan kan? Yang jelas-jelas sunnah malah ditinggalin, yang nggak jelas juntrungannya malah dipegang teguh. Malah ada banyak kasus (yang mana saya juga mengalami) dimana ibu atau sanak saudara mereka jauh lebih marah saat mereka enggak menutup rambut ketika adhaan dibanding ketika di hadapan laki-laki bukan mahram. Singkatnya, pake kerudung waktu adhaan itu lebih wajib daripada lo pake kerudung di depan cowok bukan muhrim. What a truly, completely, dumbly, nonsense. In fact, itu lah yang dipraktekan oleh kedua kakak ipar saya *miris*

Tapi memang kalau soal yang aneh-aneh gitu, ada banyak banget di India. Setidaknya di tempat saya tinggal sekarang, kurang tahu sih kalau di India bagian lain karena meskipun udah tinggal di sini setengah tahun lebih tapi pergaulan saya bagaikan katak dalam tempurung. Kekekeke...
Nah supaya afdol, berikut saya bahas beberapa hal yang menurut saya aneh tapi menarik di India.

Tradisi pingit sepulang haji/umrah.

Selain aturan harus pake kerudung saat adhan, ada lagi nih aturan yang sampai saat ini saya masih nggak ngerti. Perempuan yang baru pulang dari haji atau umrah harus dipingit selama satu bulan. 
Kenapa? Ada apa dengan perempuan yang baru balik dari tanah haram? Kenapa harus dipingit? Mesti banget apa satu bulan nggak boleh keluar rumah? Yah, saya sih juga nggak terlalu ngerti, tapi pasalnya, perempuan yang baru balik dari haji atau umrah itu nggak boleh kelihatan sama orang lain setidaknya selama 30 hari. Tradisi yang lucu menurut saya, baru liat pertama kali ibu-ibu sama nenek-nenek dipingit, hehe.. ya, mungkin supaya terhindar dari acara ngegosip di rumah tetangga.

Selain harus dipingit, perempuan yang baru pulang dari haji/umrah juga harus menahan diri dari hal-hal berbau hiburan. Nggak boleh nonton tv, nggak boleh denger musik, sinetron apalagi acara gosip. Anehnya, aturan ini cuma berlaku untuk perempuan aja, sementara Moothappa (saudara laki-laki ayah mertua) yang menjalankan ibadah umrah bareng bumer bisa bebas pergi kemanapun, kapanpun dan bebas melakukan apapun. Nah, loh.

Perempuan jangan ke mesjid.

Saking banyaknya mesjid dan rombongan anak-anak yang pergi ke madrasa, kadang-kadang saya lupa kalau jumlah penduduk muslim di Kerala sebenarnya nggak lebih dari 27% (55% penganut hindu, 18% kristen, dan sangat sedikit yang memilih untuk tidak mengimani apapun). Tapi khusus di  Malappuram jumlah muslim memang masih jauh lebih banyak dibandingkan penganut agama hindu jadi nggak heran, kalau di sini jumlah mesjid sama banyaknya dengan jumlah kuil.

Sayangnya, rata-rata mesjid di Malappuram nggak women friendly. Saya kurang tahu sih gimana di daerah lain, tapi dari pengalaman, saya jaraaaangg banget ketemu mesjid yang menyediakan tempat sholat khusus wanita. Dan di sini, yang mana kalo kamu kondangan aja perempuan sama laki-laki makannya kudu beda ruangan, apalagi kalo sholat kan. Mau nekad numpang sholat campur sama jemaah cowok? siap-siap aja bakal diliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki atau ditegur sama Imam.

Sekarang saya baru faham kenapa dulu waktu bumer dan kakak-kakak ipar berkunjung ke Makassar buat ngelamar, tiap kali diajakin ke mesjid buat sholat pasti tatapannya langsung berubah horor gitu. Saya selalu menangkap kesan berat hati dan pertanyaan yang mereka keluarin selalu sama, "disana ada mukena?"

Little did i know, kalau ternyata di sini perempuan tidak terbiasa sholat di mesjid. Bahkan di lingkungan tempat saya tinggal, sangat jarang perempuan yang ikut sholat hari raya. Duh, padahal kan yang bikin afdol lebaran itu sholat hari rayanya kan, selain ketupat dan opor tentunya, hehehe.

Yang jelas sejauh ini baru tiga mesjid women friendly yang saya temui. Di sini saya nggak ngomongin fasilitas dan kenyamanan ya, yang tempat sholat sama wudhunya di pisah cewek-cowok atau apalah itu, secara dibolehin numpang sholat aja udah syukur ;p

Pertama kali saya ngerasain sholat di luar rumah itu waktu ketemu mushalla di rooftop mall paling besar di Calicut dan ruangannya kayak dua bangunan terpisah gitu. Jadi otomatis, cewek-cewek nggak bisa ikut sholat jemaah bareng cowok, wong beda bangunan, imamnya nggak keliatan, hehe Kalau lagi beruntung, sebenarnya ada mesjid yang membolehkan traveller wanita untuk numpang sholat di sana (dan itu biasanya di tulis di luar bangunan mesjid). Tapi so far, saya baru ketemu mesjid kayak gitu satu biji doang.

Tanda hitam di wajah anak kecil.

Sebagai pelahap bayi, batita dan balita, tradisi ini bikin saya cukup kecewa. Gimana enggak, anak-anak yang harusnya lucu-lucu dan gemesin jadi kelihatan nyeremin gara-gara si tanda hitam ini ;'(. Hampir semua bayi-bayi di India, baik dari keluarga muslim maupun hindu pasti dibikinin tompel buatan ini di mukanya, entah itu di jidat, pipi, dagu dan area lain yang mudah terlihat orang. Tujuannya? tentu biar si anak keliatan jelek, nggak lucu, dan nggak menarik. Katanya sih, ini untuk menghindari 'evil eyes'
Sejujurnya saya lebih serem liat alisnya dari pada tanda hitam di pipi kiri si bayi.
Invasion of eyebrows in the whole other level. Pfftt..

Dari yang saya tahu, evil eyes dikenal dalam islam sebagai penyakit 'ain ('ayn al hasad) atau penyakit mata (cmiiw). Untuk menghindarinya kita dianjurkan mengucapkan Masha Allah atau Tabarakallah saat memberikan pujian pada orang lain. Selain itu, membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, juga dipercaya dapat menangkal penyakit 'ain ini.

Pada kenyataannya hampir setiap tempat punya kepercayaan (tentunya dengan versinya masing-masing) mengenai evil eyes ini, termasuk kebudayaan Roma dan Yunani. Masing-masing tempat dan budaya punya sebutan sendiri untuk evil eyes beserta macam-macam jimat penangkalnya. Selengkapnya soal evil eyes bisa lah dibaca-baca sendiri di wikipedia, tapi yang pasti India termasuk penganut keras fenomena evil eyes. Sampai-sampai segala macam ketidakberuntungan hampir pasti akan dikaitkan dengan evil eyes. Batuk dikit langsung curiga ada yang evil eyes, ayam ilang? siapa sih nih yang evil eyes, rambut rontok, kulit item, muka kusam, kaki kurapan? udah pasti semua gara-gara evil eyes.

Bukan apa-apa sih, tapi saya jadi merasa kok ya orang-orang sini (termasuk suami saya, haha) hobi banget kege-eran, seolah-olah tuh seisi dunia iri sama mereka. Padahal ya menurut saya, batuk itu karena virus, ayam ilang karena linglung, rambut rontok, kulit item, muka kusam dan kaki kurapan itu karena mandi yang kurang rajin =P

Nah, di Kerala, selain menggambar titik hitam di wajah untuk menangkal evil eyes biasanya anak kecil akan dipakaikan jimat berupa tali yang diikat di pinggang dan di dalamnya terdapat ayat-ayat tertentu. Jimat ini harus dipakai terus menerus (tidak boleh dilepas sama sekali bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun) hingga si anak mencapai usia tertentu.

Duh, aslinya saya paling nggak demen sama jimat-jimatan kayak gini. Selain nggak enak dilihat, salah-salah jadi praktek syirik. Tapi susah sih ngerubah sesuatu yang udah jadi budaya. Biasanya, kalo tiba-tiba salah satu dari saya atau Ka Salam jatuh sakit, Umma pasti bakal nyiapin garam batu, cabe merah kering sama entah apa lagi yang kemudian dibungkus kain terus gumpalan itu bakal diputerin di kepala kita sambil mulutnya komat-kamit baca surat al-fatihah. Kalau udah gitu, saya sama Ka Salam bakal liat-liatan sambil nahan ketawa, terus Umma yang tahu kalau lagi kita ledekin bakal cengar-cengir sambil tetep komat-kamit, lalu pergi ke dapur buat bakar gumpalan tersebut. Padahal ya kalau mau baca surat al-fatihah ya baca aja nggak usah pake bungkusan aneh-aneh terus dibakar, tapi ya balik lagi ke budaya tadi. Susah untuk ngerubah sesuatu yang udah mengakar.

Kadang-kadang, Ka Salam juga sering ngasih tahu, kalau praktek kayak gitu tuh nggak ada dalilnya. Kalau kami tantangin beliau buat nanya dalilnya ke Imam, pasti Umma jawabnya, "I don't have any courage to do that, maybe Imam will kick me out," terus kabur sambil cengengesan. Yasudahlah.

Sebenernya masih banyak banget hal-hal yang aneh tapi menarik di sini. Tapi cuma bahas tiga biji beginian aja saya nulisnya makan waktu dua hari, haha.. Biar yang baca juga nggak puyeng, Insya Allah nanti bakal saya bikinin part dua nya ya.

Ciao!

2 comments: