April 18, 2017

Fort Kochi Staycation Part I

Layaknya pekerja Jakarta yang haus hiburan kala weekend, ada kalanya saya juga butuh pelarian sementara semacam itu. 
Weekend Getaway, kalo orang bilang.
Short Escape.

Hah! Padahal saya mah apa, kerja juga enggak, punya anak juga belum, kerjaan cuma main hp sama ngurusin suami doang.

Haha.. Tapi justru itu yang malah jadi alasan kuat saya harus sering jalan-jalan, kan? Kalo nggak sering-sering jalan bisa-bisa saya stres di negeri orang saking kebosanan. Ye nggak? Iya-in aja lah udah biar cepet =D

Nah, untuk weekend gateaway ini, biasanya saya sama suami selalu pergi ke Fort Kochi.

Kenapa ke Kochi? Karena nggak terlalu jauh dari Tirur, cuma makan waktu 3-4 jam naik kereta, cocok banget untuk liburan 1-2 malam. Saya sih seneng-seneng aja di bawa ke mana pun, lagian Fort Kochi ini suasananya menyenangkan, relaxing, dan banyak tempat-tempat menarik.


How To Get There

Akses menuju Fort Kochi bisa dibilang sangat mudah. Hampir semua rute kendaraan umum sepertinya bakal berakhir di Fort Kochi (cmiiw). Kalau pake kereta api, dari stasiun ERS saya biasanya jalan ke M.G Road terus tinggal naik bus yang ada tulisan Fort Kochi di kacanya. Ongkosnya 15 rupee atau sekitar 3 ribu rupiah untuk perjalanan kira-kira 20 menit.

Kalau misalnya takut nyasar atau males jalan, dari stasiun ke M.G Road bisa banget naik auto (sebutan disini untuk autorickshaw alias bajai)

Pilih bajai dari auto prepaid counter aja biar nggak kena zonk harga tipu-tipu. Ciri-ciri counternya cari aja loket kecil yang banyak bajai berjejer antri. Nanti kita tinggal bilang tujuan kita ke petugas counter, terus mereka bakal kasih struk nominal tarif ke tujuan kita. Biaya servisnya 2 rupee dan bayar ongkos bajainya langsung ke abang bajai sesuai nominal di struk.

Menuju Fort Kochi dari Kochi Airport malah lebih gampang lagi. Lebih nyaman juga kayaknya karena bisnya itu tipe low floor dengan air conditioner. Gampang lah pokoknya. Ada banyak!

Where To Stay

Begitu memasuki wilayah Mattancherry dan Fort Kochi, mata kita akan dimanjakan dengan deretan rumah-rumah cantik bergaya indo-eropa dengan balkoni taman bunga.  Banyak penduduk setempat yang menyewakan kamar-kamar di rumah mereka untuk para pelancong. Terdapat 100 lebih homestay di area sekitar dengan tarif  antara 100-300 ribu idr per malam. Harga tersebut masih bisa lebih murah lagi 10%-20% kalau bukan lagi peak season.

Beberapa homestay bahkan menyediakan sepeda dan canoe untuk berkayak. Bagi yang punya budget berlebih dan ingin fasilitas lebih luxury, hotel-hotel high–end bertarif jutaan juga tak kalah banyak.

Be aware of mosquitoes, tho!
Seperti negara tropis lainnya, Kochi juga menghadapi permasalahan pelik soal nyamuk. Jadi jangan heran kalau lihat kawat nyamuk terpasang hampir di setiap lubang dan jendela.

mosquito net is essential

What To Do

Fort Kochi merupakan lingkungan bersejarah yang berada di pinggiran kota metropolitan Kochi. Begitu kota pelabuhan kuno Muziris tersapu tsunami, pelabuhan Kochi mengambil alih tugas menyambut kapal-kapal para pedagang dari Cina hingga Eropa dan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang tengah berkembang saat itu. Hal ini mau tidak mau menarik perhatian berbagai kekuatan eropa seperti kumpulan semut mencari sumber gula.

Pada akhir abad ke 14, penjelajah terkenal Vasco de Gama berhasil menemukan jalur laut dari Eropa ke Asia, menembus perairan Hindia dan tiba di Pantai Malabar. Dua tahun setelah kedatangan pertamanya, Vasco de Gama akhirnya berhasil membuat kesepakatan dengan raja-raja Kochi dan membuat sebuah benteng kecil yang disebut Fort Kochi. 3 abad kemudian, Belanda berhasil mengambil alih Fort Kochi dan memerintah selama kurang lebih 100 tahun sebelum akhirnya menyerahkan sabuk kekuasaan pada Inggris hingga hari kemerdekaan.

Bertahun-tahun setelah kemerdekaan, Fort Kochi masih mempertahankan sisa-sisa kejayaan masa lampau. Meskipun bangunan benteng yang dibangun oleh Portugis telah hilang dirusak oleh Belanda, namun namanya masih menetap, bertransformasi menjadi nama wilayah tempat segala macam pengaruh budaya dari berbagai belahan dunia melebur.

1. HERITAGE VISIT

Dengan luas area tidak seberapa lebar dan cukup padat. Cara terbaik menjelajah Fort Kochi ialah dengan berjalan kaki. Tapi kalau kamu tipe turis sabtu-minggu yang tidak punya banyak waktu, menyewa auto selama 1-2 jam adalah pilihan yang tepat. Tarif sewa bajai selama satu jam kira-kira 100-150 rupee (20-30k idr).

Umumnya situs-situs sejarah dengan loket tiket tutup pada hari jum’at dan sabtu. Sebaiknya cek terlebih dahulu jam buka situs yang mau didatangi. Pastikan juga kalian mengenakan pakaian sopan (celana panjang serta baju berlengan) dan tidak membawa terlalu banyak barang.

Churches & Temples Hopping

Dalam kurun waktu 400 tahun masa kependudukannya, pemerintahan Portugis, Belanda dan Inggris banyak membangun gereja-gereja dan shrine sebagai hadiah kepada raja-raja Kochi saat itu. Rata-rata gereja yang ada di kawasan Fort Kochi dan Mattancherry merupakan peninggalan Belanda, kecuali gereja St. Francis dan Kathedral Santa Cruz Basilica.

St. Francis Church, merupakan gereja Eropa pertama di India yang dibangun oleh portugis pada abad ke 15. Setelah Fort Kochi jatuh ke Belanda, gereja ini kemudian berubah menjadi gereja Reformis dari awalnya gereja Katolik Roma dan berubah lagi menjadi gereja Anglikan pada masa kependudukan Inggris. 
Monumen Vasco de Gama berada di halaman depan gereja ini dimana Laksamana Muda Laut India itu pernah terbaring disini selama 14 tahun sebelum jasadnya dikembalikan ke Lisbon pada tahun 1568. 


Santa Cruz Cathedral Basilica, merupakan satu-satunya gereja bergaya gothic yang ada di area Fort Kochi sekaligus juga salah satu dari 8 basilika yang ada di Kerala. Pada masa pemerintahan Belanda, banyak bangunan katolik yang dihancurkan, Santa Cruz Basilika adalah salah satu yang bertahan.


Selanjutnya, katedral ini direnovasi dan disucikan kembali pada tahun 1905 pada masa pemerintahan Inggris. Letaknya yang berada di tengah kota serta penampakannya yang paling berbeda, gereja ini kerap menjadi penanda jalan. 


Pada malam-malam saat ada perayaan tertentu katedral ini bisa sangat ramai. Lampu-lampu berwarna biru berkelap-kelip dari ujung ke ujung. Halaman katedral penuh dengan manusia, jalanan di luar pagar pun dijejeri para penjual makanan. Persis pasar malam.



http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
St. Francis.
photo credit:  makemytrip
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
Santa Cruz Basilica
photo credit: remotetraveler
Selain dua gereja ini masih banyak sebenarnya gereja-gereja peninggalan Belanda dan Inggris yang masih berdiri. Seperti gereja Our Lady of Life di Mattancherry, St. Peter and St. Paul’s Orthodox Syrian Church, The Lady of Hope Church,  banyaklah pokoknya. Gereja-gereja bersejarah bisa didatangi kapan saja hingga jam 5 sore terkecuali hari minggu. Bukan cuma gereja, kuil-kuil tua berusia ratusan tahun juga nggak kalah banyak, hanya saja kebanyakan kuil hindu tertutup untuk turis.

Yah, gak papa sih, yang namanya ibadah kan memang seharusnya jadi ritual sakral, bukan tontonan turis. Tapi di antara kuil-kuil tersebut, ada satu kuil yang sangat ramah turis. Namanya kuil Jain.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
kuil di Mattancherry yang berusia 5 abad lebih
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html 
gereja The Lady of Life
tampak dalam The Lady of Life

Jain Temple, sesuai namanya, kuil yang berada di Gujarati Road ini memang merupakan kuil ibadah penganut jainisme. Bagi orang-orang India asli, kuil ini mungkin tidak terlalu menarik dibandingkan kuil-kuil Jain lain yang ada di India khususnya di wilayah Rajashtan. Namun meskipun tidak terlalu besar, tapi kuil ini sungguh cantik dan tenang.


Di pintu masuk, semua barang harus dititipkan (with your own risk!). Pastikan juga kalian berpakaian sopan, karena orang bercelana pendek sudah pasti ditolak masuk.
"At 12 pm, the magic starts"
Para biarawan (atau pendeta? Idk) mulai membunyikan lonceng yang akan memanggil burung-burung dara di sekitar kuil berkumpul di halaman. Selanjutnya biarawan/rahib/pendeta itu akan menyanyikan doa-doa menurut kepercayaan Jain sembari memberi makan burung-burung tersebut dengan biji-bijian.
photo credit goes to tripadvisor

Dhobi Khana

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.htmlhttp://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.htmlDari semua tempat saya datangi pagi itu, bisa dibilang Dhobi Khana lah yang paling aneh. Deretan wanita dengan sari kusam dan para pria tanpa kaus tengah menyeterika baju menyambut saya saat memasuki sebuah bangunan semi terbuka. Rambut mereka sudah memutih banyak, usia mereka pasti lah telah lewat 70 tahunan. Bilik-bilik kecil seperti toilet tanpa pintu berjejer dengan tumpukan baju di depannya.

Saat melewati gerbang dengan tulisan Vannar Sangham, Dhobi Khana, sejujurnya saya tidak tahu tempat macam apa yang sedang saya datangi ini. Supir auto yang membawa kami menyuruh kami mengikutinya ke bagian belakang bangunan, dan di sana lah... terhampar jemuran skala besar di atas sebuah padang rumput hijau.

“Mungkinkah ini lokasi syuting film?” pikir saya seketika sambil sibuk mencari-cari sesosok makhluk menari-nari di sela kain-kain putih yang melambai-lambai dihembus angin.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html

But nope! Meskipun sekilas nama Dhobi Khana terdengar cukup kolosal untuk menjadi tempat syuting film bollywood, tapi sebenarnya tempat ini merupakan area laundry publik yang dibangun pada tahun 70an.
Vannar Community
Washermen Building
Sejarah awal lahirnya Dhobi Khana bahkan telah dimulai lebih jauh lagi yaitu sejak era kolonial saat pasukan Inggris (beberapa sumber menyebutkan pasukan Belanda) membawa banyak orang-orang tamil ke Fort Kochi untuk dijadikan tukang cuci pakaian seragam prajurit. Pada tahun 1920, komunitas orang tamil ini selanjutnya membentuk Vannar Sangham (komunitas Vannar).

Pasca kolonial, para dhoby (washermen) kemudian mendatangi rumah-rumah, hotel, rumah sakit, sekolah maupun instansi pemerintah untuk menawarkan jasa mereka.

Tata cara mencuci para dhobby ini benar-benar tradisional. Tak hanya mencuci baju dengan tangan dan pengeringan alami sinar matahari dengan teknik menjemur yang unik. Mereka juga menggunakan rendaman air beras sebagai pelembut, serta alat setrika traditional menggunakan arang dengan berat hampir 10 kilo. 


Apabila datang ke sini pada hari minggu, tak jarang kita akan menemukan muda mudi anak-cucu Vannar yang telah sukses masih datang ke sini untuk mencuci baju mereka menggunakan fasilitas di Khana. Beberapa dari mereka adalah enginer di perusahaan IT terkemuka India, kapten kapal, polisi, etc.

Whyyyy?? Entahlah. Mungkin mereka perfeksionis lebih suka mencuci baju pakai tangan? Mungkin ada semacam efek pelepas stres saat menghempaskan pakaian ke batu besar? Mungkin cuci baju sekalian work out? Mungkin sama seperti sosialita yang nongkrong di Mall, komunitas Vannar hang out-nya sembari cuci baju?
Mungkin alasan kenapa mereka masih repot-repot melakukan itu semata-mata agar Khana tidak mati. 
Yang jelas saya salut banget sama mereka-mereka ini yang masih menghidupi adat dan tradisi leluhur. Because no matter what are they now, their ancestor was once a washermen. 

Mattancherry Palace

via culturalindia
Mattanchery Place jelas-jelas salah satu destinasi yang ngak boleh dilewatkan saat kalian ke Fort Kochi. Tapi sayangnya, saat saya ke sana Mattancherry Palace ini tutup. Selain sejarahnya, hal paling menarik dari musium ini ialah lukisan mural besar yang melapisi area sebesar 300 meter persegi dari lantai hingga langit-langit.

Selain mural, terdapat juga foto-foto keluarga besar kerajaan serta artifak-artifak kuno koleksi kerajaan, Tentunya mural-mural tersebut menceritakan kisah-kisah purana, yakni cerita kuno dalam kesustraan Hindu, yang berisi mitologi dan legenda zaman dahulu (Friday closed, open 10-5).

Jews Synagogue

Pada abad ke 12 terdapat dua komunitas yahudi yang mula-mula datang ke Fort Kochi. Yang pertama, Malabar Yehudans yang mengaku sebagai keturunan King Solomon of Israel dan kedua, komunitas Yahudi Sephardi berkulit putih yang datang dari semenanjung Iberia dan kemudian disebut oleh penduduk lokal sebagai Paradesi yang artinya orang asing.

Jews Synagogue disebut juga Paradesi synagogue merupakan sinagog dari abad ke 15 yang masih aktif dari tujuh sinagog yang ada di Jews Town, Mattancherry. Ada peraturan tidak boleh mengambil foto di dalam sinagog, tapi tenang saja, keindahan lampu-lampu gantung Belgia dan keramik antik Cina yang melapisi seluruh lantai akan sulit untuk dilupakan. 

via keralatourism

Bagi penyuka musium, Fort Kochi menawarkan banyak sekali pilihan musium untuk dikunjungi. Sebut saja Indo-Portugues Museum yang terkenal dengan barang-barang antik peninggalan portugis, Maritime Museum, Fort Kochi Beach Museum, The Museum Company hingga Kerala Folklore Museum dengan 4000 artefak koleksinya. Kerala Folklore Museum bahkan pernah didatangi oleh Pangeran Charles dan Camilla pada tahun 2013.

Sayang, karena sudah merasa terlalu lelah, saya dan ka Salam memutuskan untuk skip museum visit dan lebih memilih balik ke hostel untuk tidur siang. =P

Beberapa supir auto mungkin akan menawarkan berkunjung ke beberapa heritage shop yang dikelola pemerintah. Modusnya sih nggak jauh ala-ala tukang becak malioboro, para supir auto ini juga akan mendapatkan voucher pembelian BBM setiap membawa pengunjung.

Nggak ada salahnya sebenernya itung-itung ngadem karena heritage shop milik pemerintah ini lucu-lucu banget memang. Meskipun harganya nggak lucu, tapi lumayan deh buat cuci mata.

2 comments:

  1. Potonya kurang, cinta.
    Mana poto melynnya sembari selfie? Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaa.. iyaa! padahal foto-foto selfi udah dikolase buat bahan blogpost, eh taunya saking kepanjangan malah lupa dipajang. Nanti aku post di instagram akoo aja ya mbak. Hihi..

      Delete