April 18, 2017

Fort Kochi Staycation Part II


http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
foto saya sama suami waktu jadi figuran penari latar film terbarunya King Khan.
Muahahha.. nggak deng!
Kalau penasaran baca dulu ceritanya di part 1

Setelah sholat dan teler sebentar akibat kelelahan keluar masuk heritage shop (maksutnya lelah hati karena yang dijual mahal-mahal bet). Saya sama Ka Salam memutuskan ke luar buat cari makanan berat karena camilan di kamar tlah habis semua.

Pukul 3 sore waktu itu, matahari masih lumayan terik. Kami memutuskan makan di Hotel Lucky Star yang ada di Fosse Road, tak jauh dari hostel tempat kami menginap. Jangan salah sangka di Kerala istilah hotel memang biasa dipakai untuk rumah makan atau restaurant, bukan berarti itu restauran hotel atau semacamnya tapi memang disebutnya aja begitu.

Dan seperti biasa, pasangan kereromantis macam kami ini sudah pasti pesannya nasi biriyani. Murah, banyak, cukup seporsi bisa kenyang makan berdua. Harga sepiring biriyani biasanya dari 90-150 rupee, dapat nasi segepok, ayam dua potong, dua jenis acar dan kerupuk!

Perut kenyang, hati senang, saatnya kita lanjut jalan-jalan.

2. STROLL AROUND THE NEIGHBOURHOOD

Tak bisa dipungkiri, Fort Kochi memiliki jalan-jalan kecil yang sangat fotogenik. Rumah-rumah tingkat minimalis dirimbuni bunga-bunga dan tanaman rambat serta deretan kafe, gallery dan butik-butik artistik, jalanan di Fort Kochi betul-betul seindah namanya. Sebut saja Princess street, Lilly street, Napier street, Rose street.

Nggak percaya? Nih liat aja foto-fotonya. 
via cochinblogger.wordpress.com

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com

Dari Fosse Road kami berjalan lurus menelusuri Bastian Street, berbelok kanan masuk ke Princess Street lalu melipir ke Gelato&More untuk makan es krim.

Bergandengan tangan menyusuri Rose street, hingga Parade Ground, lalu tiba di St. Francis Church Road untuk makan pizza vegetarian di kafe David Hall Gallery.  Setelah kenyang kami melangkahkan kaki ke Lilly street, membeli Kathi Roll di Dal Roti untuk camilan tengah malam lalu menghabiskan nyaris satu jam kembali ke pantai.

Di tengah perjalanan kami berhenti di Peter Celli street, demi segelas sarsaparilla lemonade di Kashi Art Cafe sebelum kembali kekenyangan dengan blueberry cheesecake dari Teapot Cafe.
Nggak percaya? Memang seharusnya enggak! =P Hehe..

Kan saya sama Ka Salam baru makan siang jam 3. Lagian mana adaaaaa, orang biriyani aja makan kongsi berdua, hahahaha.... Terus juga tuh Ka Salam nggak suka pizza (iya tau, my hubby is that weird) apalagi sayur! jadi gimana ceritanya makan pizza vegetarian.

Yang sebenarnya terjadi ialah kita berdua lagi ena-enaa terpukau sama ke-au then tic-an jalanan Fort Kochi sampe akhirnya nyasar nggak tau arah balik. Makanya langsung pada sibuk nyari jalan keluar tanpa GPS biar enggak ketinggalan sunset.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Koder House

3. FORT KOCHI BEACH


http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
ramai di akhir pekan

Pantai Fort Kochi ramai luar biasa saat kami berhasil keluar dari jaring laba-laba jalanan bernama indah tapi menghanyutkan(?). Puluhan pedagang menjajakan barang dagangan mereka di trotoar jalan, dari mulai penjual ikan hingga penjual es krim, penjual asinan hingga penjual mainan anak kecil.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html

Tua muda asyik bercengkerama di bangku-bangku panjang menghadap pantai. Beberapa remaja laki-laki bermain bola, ada juga yang bermain layangan. Momen senja di Fort Kochi memang punya banyak penggemar. Beberapa tur menawarkan paket menikmati senja dari perairan.

Ada sebuah atraksi yang cukup diminati turis di area sekitar pantai, dikenal dengan nama Chinese Fishing Net (CFN).
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Chinese Fishing Net

4. KATHAKALI PERFORMING ARTS

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Kathakali Dancers
Credit goes to Ellen Gade
Setelah lelah seharian mengunjungi setiap sudut bersejarah Fort Kochi, menonton pertunjukkan drama tari Kathakali dapat menjadi pilihan yang pas untuk menutup hari yang panjang. Kathakali sendiri merupakan seni drama tari kuno khas Kerala yang terkenal dengan riasan dan kostum yang rumit.

Kerala Kathakali Center berada di dekat hostel saya, tepatnya di KB Jacob Road. KKC menyelenggarakan pertunjukkan Kathakali sebanyak tiga kali setiap harinya dari pukul 4 sore hingga pukul 9 malam.

Selain itu Kerala Kathakali Center juga menyediakan kelas untuk belajar seni kathakali (musik, tari dan make up), martial arts, instrumen seperti violin, sithar, dan flute, serta tarian klasik semisal Bharathanatyam (saya pernah belajar ini diajarin anak tetangga, wkwkwk), Kutchipudi, dan Mhohiniyattam.

Jangan lupa, untuk pertunjukan akhir pekan, sebaiknya reservasi tiket terlebih dahulu terutama saat musim liburan.

5. BACKWATER TOUR

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
via Holiday India
Kerala memililki aliran arus balik (backwater) sepanjang 900 kilometer yang terhubung paralel dari Allapuzha hingga ke pesisir Malabar. Backwater tour merupakan tur mengikuti aliran air (meliputi danau, kanal-kanal, laguna, dsb) dengan menggunakan sampan kayu. Percampuran air sungai yang segar dengan air asin dari laut Arab membuat aliran backwater memiliki ekosistem unik yang menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Selain itu kita juga bisa memperhatikan kegiatan penduduk desa sepanjang aliran tersebut sembari menikmati pemandangan alam Kerala yang indah.

Hampir semua travel agent punya paket tur ini, dari yang durasinya setengah hari (5-6hours) hingga satu minggu. Harganya pun bervariasi dari yang 200an ribu untuk paket sehari hingga jutaan rupiah.

Saya juga tertarik banget nyobain, tapi belom dapet izin sama suami, secara Ka Salam itu, saya ajakin nyebrang nggak sampe 10 menit pake kapal ferry aja dia takut tenggelam nggak bisa berenang, apalagi sampan kayu. arrrrrhhhhhhhh
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
ngileeeeerrrrr
via cochinculturalcentre.com

6. SHOP!

Karena nggak dapet izin ikutan backwater tour, berbelanja bisa jadi pelarian sementara sebelum Ka Salam faseh berenang. Hahahah... #ngarep
Untuk urusan belanja, tak diragukan lagi Jews Town lah juaranya. Mau cari apapun ada di sini, dari barang-barang kerajinan tangan sampe furniture antik. Dari rempah-rempah sampai pakaian etnik. Dari madu, kurma, embroidery stuff, cashmere scarf sampe keripik pisang pun ada.

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
Barang-barnag disini dapat dipastikan jauh lebih murah dibandingkan barang-barang di heritage shop milik pemerintah. Selain di Jew Town, datang ke Vasco de Gama Square saat sudah gelap juga bisa menjadi alternatif berbelanja murah meriah.

via ww.photo.webindia123.com
Hari pertama saya heritage visit di Fort Kochi (baca part I) saya sempat di bawa ke All Spices Market yang berada di Bazaar Road. Saya cukup terkesan dengan bangunan tua dengan nuansa kuning dan merah itu. Authentique gimana gitcyuh lah intinya, tapi waktu akhirnya naik ke lantai 2 dan lihat harga-harga rempah yang dijual...

...gileeee chuyy, ni emak-emak (karena yg jualan semua bukibuk) mau jualan apa mau nipu orang. Semua barang yang dijual di sana TIGA KALI LIPAT dari harga sewajarnya. Mana mereka nawarin barang maksa bener dengan gaya seolah di situ udah paling murah, udah harga diskon. KZL.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html

Eh, KZLnya belum selesai deng, soalnya mereka masih pake acara nyodorin buku menu yang isinya minuman herbal semacam teh jahe, chai masala, chai pepper, teh kapulaga, cengkeh, dsb, dst, yang mana sejujurnya sudah tamat saya coba satu-satu, kecuali varian chai (milk tea) karena saya nggak doyan susu.

Ka Salam pun udah jelas-jelas nolak dengan halus. Tapi entah gimana ceritanya, tiba-tiba dua cangkir teh masala telah disodorkan di hadapan kami. Teh masala dibuat dari daun teh yang direbus bersama kapulaga, kayu manis, cengkeh, jahe serta lada hitam. Rasanya ya kayak teh jahe dicampur merica aja, panas-panas pedes gimana gitu. Belum selesai saya sama Ka Salam cengo selembar kertas tahu-tahu udah disodorin lagi yang isinya tagihan kedua teh tersebut.

Woww! They’re really lack of attitude. 

Untung harga tehnya masih normal, kalo nggak udah saya ajak gelut.

So buat kalian yang ada di area Fort Kochi, atau ada rencana liburan ke Fort Kochi, hati-hati aja sama toko satu ini.

7. AYUVERDIC SPA

Sudah bukan rahasia bahwa Kerala terkenal dengan terapi pijat ayuverdanya yang telah mendunia. Well, sebenarnya nggak cuma di Fort Kochi sih, hampir setiap tempat di Kerala, bahkan India bahkan negara lain pun pasti punya klinik pijat ayuverdha, apalagi hotel-hotel besar. Tapi yaa, kenapa enggak?

Terapi pijat ini konon katanya dapat mengatasi berbagai permasalahan kesehatan dari sekedar otot kaku hingga obesitas karena pemijatannya bukan hanya sampai ke bagian otot saja tapi juga hingga merasuk ke sistem jaringan dan sel.

Howwww??? Bagaimana mungkin itu terjadi???



Jadi itu dia tujuh macam hal yang bisa kalian lakukan di Fort Kochi. Yang mana favorit kalian? Kalo saya sih teteuupp backwater tour. Hukss.

Keterangan foto kiri-kanan; [1] Mattanchery Temple, [2,
] gereja Our Lady of Hope, [3,4] Dhobbi Khana, [5] Spice Market.

Padahal jarang-jarang punya foto berdua di segala tempat kayak gini. Biasanya kemana-mana fotonya pasti cuma selfie-selfie sejangkauan tangan (ora nduwe tongsis cyiinn) yang otomatis gambarnya pasti muka semua. ahahah.. untunglah ada tour guide merangkap supir bajai yang nggak tahu kenapa semangat banget moto-motoin kami berdua.
Padahal mah kita ngga minta.
Cheers :D

2 comments:

  1. Poto selfienya plis. Hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah diupdet tuh mbaaakkk. Ahahahha.. padahal udah dikolase tapi lupa masukin. Haha.. foto selfie pasangan jaga image ke supir bajaj. Hihihi

      Delete