April 20, 2017

Review: Kartini



Film Kartini yang saya tonton merupakan drama biografi R.A Kartini garapan Hanung Bramantyo. Sebelumnya telah ada dua film lain yang juga mengangkat kisah Kartini yaitu film berjudul R.A Kartini besutan sutradara Sjumandjaja pada tahun 1982 serta Surat Cinta untuk Kartini pada tahun 2016.

Kesan saya saat menonton film ini lumayan dalam, jadi harap maklum kalau review ini cukup panjang. Hehehe..

Di awal permulaan film, belum apa-apa pononton sudah dibuat mengharu biru oleh pemberontakan pertama Trinil  kecil (nama panggilan Kartini) yang tidak mau tidur di pendopo dan lebih memilih bersama dengan ibu kandungnya.

Dirinya sungguh tidak sudi memanggil ibunya bibi (Yu) dan harus dipanggil Tuan puteri (Ndoro puteri) oleh ibunya sendiri setelah ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) terpaksa menikahi R.A Moeryam (Djenar Maesa Ayu) untuk melengkapi persyaratan menjadi bupati Jepara.

foto keluarga besar Kartini

Trinil kecil diperankan dengan baik oleh gadis kecil yang sosoknya masih misterius hingga saat ini. Haha..  sudah saya cari kemana-mana tapi tetap nggak ketemu. Yang pasti akting mengamuknya sungguh mantap. Hati saya ikutan pedih seolah tak rela Trinil harus beda kasta dengan perempuan yang melahirkannya. 



Pemberontak yang Terkungkung

Cerita pun berlanjut hingga Kartini beranjak remaja (diperankan oleh Dian Sastro). Trinil yang harus dipingit begitu mendapat haid pertamanya dan menjalani masa pingitan bersama kakak tirinya, Soelastri (Adinia Wirasti) sampai ada bangsawan bergelar raden mas yang melamar mereka. 

Kartini hampir mati bosan menjalani ritual-ritual dalam masa pingitan, kepribadiannya yang bebas tak cocok dengan adat aturan jawa yang mengkastakan manusia. Kartini merasa terbelenggu, namun Raden Mas Panji Sasrokartono (Reza Rahardian) lah yang pertama kali menanam ide kebebasan pikiran kepada Kartini. Bahwa meskipun tubuh terpasung, jiwa dan pikiran kita harus tetap bebas sebebas-bebasnya.
Kartini dan ketiga saudarinya harus belajar berjalan jongkok selama masa pingit.

Sebelum pergi ke belanda, kakak tirinya itu memberikan Kartini sebuah kunci yang katanya dapat membawa Kartini keluar dari pendopo. Kunci itu ternyata merupakan kunci pintu sebuah lemari buku. Dari sini lah petualangan Kartini di mulai. Dinding kamar yang menjadi penjaranya selama masa pingitan berubah menjadi dunia baru yang menembus batas ruang dan waktu. Hanung Bramantyo dengan apik menghadirkan tokoh-tokoh tersebut secara nyata berinteraksi dengan Kartini.

Bersama dengan dua adik perempuannya Rukmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) yang bergabung dalam masa pingitan beberapa saat kemudian mereka bertiga  mengalami petualanan-petualang seru ke negeri yang jauh. 
Rukmini yang suka membatik, Kardinah yang pintar menggambar, dan Kartini yang piawai menulis, ketiganya tumbuh menjadi mutiara gadis jawa yang kerap kali dipuji-puji belanda dalam beberapa kesempatan. Hal ini mau tak mau membuat ayah mereka R.M Sosroningrat turut bangga terhadap ketiga puterinya dan mulai melunakkan sistem pingitan.


Mengenal Lebih dalam Sosok Ibu Kartini

Selama ini, sosok ibu Kartini yang hidup dalam pikiran saya tak lain ialah sosok perempuan jawa yang halus, kemayu, bertatakrama. Tak heran saya agak kaget saat menemukan prilaku Dian Sastro yang jauh bertolak belakang dari pakem saya selama ini. Nyatanya, Ibu Kartini memang tidak seperti perempuan jawa di masanya, karakternya yang lincah, energik, berbakat bandel dan cerewet itu lah yang membuat beliau mendapat panggilan Trinil, burung kecil lincah yang cerewet minta ampun.



tongkrongannya di atas tembok, chuy!
Sejak kecil, Kartini terkenal sangat cerdas. Kefasihannya berbahasa Belanda menjadi jembatan dirinya mengenal pemikiran-pemikiran barat yang lebih maju dan memerdekakan perempuan. Tak heran, Kartini kemudian menjadi perempuan dengan pemikiran yang jauh melampaui zamannya.

Dibantu oleh Madam Ovink-Soer, seorang noni Belanda baik hati yang selalu mendukung trio Kartini-Kardinah-Rukmini, Trinil pun mulai menerbitkan tulisan-tulisannya dengan nama pena "Het Kalverblaad" yang berarti daun semanggi. Selain itu, Kartini juga mulai berkorespondensi dengan perempuan-perempuan dari negeri Belanda salah satunya dengan Rosa Abendon.


Mendobrak Tradisi

Tergugah dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa, Kartini pun ingin memajukan perempuan-perempuan pribumi di negerinya. Bersama dengan kedua adiknya dan dukungan penuh dari ayahnya, Kartini mulai membuka kelas gratis di pendopo.

Tak hanya itu, ketiganya pun bahu membahu membesarkan industri ukir jepara untuk menaikkan taraf ekonomi penduduk. Lewat gambar-gambar yang didesain oleh Kardinah, ketiga putri Jepara ini mulai mengenalkan dan menyalurkan pesanan ke negeri Belanda. Namun sepak terjang ketiganya tak lantas berjalan mulus. Selain penolakan dari para pengukir kayu yang awalnya takut pamali mengukir motif-motif aneh buatan Kardinah, penentangan dari dalam pendopo juga tak kalah banyak. Untunglah dukungan dari sang ayah mampu membuat ketiganya terus maju mendobrak tradisi feodal.

pendidikan untuk taraf hidup lebih baik

Sepanjang film kerjaan saya cuma dua; kalo nggak senyam senyum sampe pipi pegal, ya nahan nangis sampai sesak (mureh amat sih lu mel). Jajaran nama besar para pemain dan jalan cerita yang padat dengan emosi sangat berpotensi membuat para penonton banjir air mata.

Sosok Dian Sastro bisa jadi memang terlalu matang memerankan tokoh Kartini muda yang masih remaja, tapi saya rasa aktingnya benar-benar masuk ke karakter Trinil yang digambarkan sebagai gadis jawa lincah yang cerewet. Kepiawaian para pemain lain dalam berbahasa jawa dan belanda pun patut diacungi jempol.

Belum lagi akting Deddy Sutomo yang sangat memikat menampilkan dilema sosok R.M Sosroningrat saat Kartini menyatakan ingin meneruskan sekolah. Sungguh sebuah permintaan kontroversial yang memancing kemarahan berbagai pihak saat itu.

Sebagai pemimpin ia tentu berkewajiban menjujung adat dan tradisi, tapi di sisi lain sebagai ayah yang mencintai dan tahu potensi anak-anaknya, dirinya harus mendukung cita-cita mereka.

Selama durasi 119 menit itu, ada tiga adegan favorit saya: 1) adegan kartini mengamuk di awal film; 2) dialog antara Kartini dan Mbah Saleh Darat saat mengikuti pengajian yang diberikan oleh ulama termasyur dari tanah semarang itu; 3) dialog antara Kartini dan ibunya saat datang lamaran dari Bupati Rembang.

Duh! Aktingnya Christin Hakim yaudah lah ya. Nggak perlu diganggu gugat lagi. Nggak tahu gimana ngejelasinnya, kalian mesti nonton sendiri aja udah. Intinya, percakapan antara Trinil sama ibunya itu bener-bener menyentuhhh..tuh..tuh.. 


"Kata apa yang telah kamu pelajari dari Belanda?"
"Kebebasan"
"Kata apa yang tidak ada?"
(hening lama) "Trinil nggak tahu, Bu."
"Bakti."

Pada akhirnya Kartini sadar bahwa sebanyak apapun yang berhasil ia pelajari dari membaca habis tulisan-tulisan para londo itu, ada satu hal yang cuma bisa ia pelajari dari akar tradisinya sendiri, yaitu bakti.

Pengorbanan yang merupakan wajah asli dari bakti itu sendiri. Kartini terpaksa memilih.

Saya memberikan nilai 8 dari 10 untuk film ini. Release berdekatan dengan hari Kartini, menjadikan film ini  tontonan yang cocok bersama keluarga, khususnya untuk putera-puteri Anda. 

Setidaknya untuk bisa lebih mengenal seperti apa sosok Ibu kita Kartini yang meskipun tidak berumur panjang, namun namanya harum menembus zaman.





4 comments:

  1. Pengen lihat, secara kartini telah banyak melekat dihati. Apalagi di perankan oleh dian sastro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak anis, pokoknya sejak nonton film ini pandangan saya terhadap sosok kartini bener bener berubah.

      Delete
  2. Ini nontonnya dimana Mel? Di indo atau... streaming?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Indonesyah atuh mbaak. Kalo film Indonesia mah saya nggak tega nonton streaming :(

      Delete